Sedang di Penjara, Pimpinan Oposisi Rusia Raih Penghargaan HAM dari Uni Eropa

pemimpin oposisi Rusia Alexey Navalny
pemimpin oposisi Rusia Alexey Navalny (Net)

KLIKPOSITIF - Parlemen Eropa telah memberikan penghargaan tertinggi hak asasi manusia Uni Eropa kepada pemimpin oposisi Rusia yang dipenjarakan, Alexey Navalny karena menantang pemerintahan Presiden Vladimir Putin di negara itu

Anggota parlemen, Rabu (20/10), mengumumkan di Twitter bahwa Navalny adalah penerima Hadiah Sakharov untuk Kebebasan Berpikir. Penghargaan ini diberi nama sesuai nama pembangkang Soviet Andrei Sakharov .

baca juga: Meski Tidak Akui Pemerintahan Taliban, Uni Eropa Sebut Akan Berikan Bantuan Langsung ke Afganistan

Dalam pengumuman itu, para legislator secara terbuka mengecam Putin dan menyerukan agar Navalny dibebaskan dari penjara.

"Mr. Putin, bebaskan Alexey Navalny . Eropa menghimbau pembebasannya dan semua tahanan politik lainnya," kata cuitan itu.

baca juga: Pengadilan Rusia Denda 3 Perusahaan Medsos Raksasa Kerena Hal Ini

Navalny, 45 tahun, saat ini menjalani hukuman penjara dua setengah tahun. Pihak berwenang mengatakan Navalny melanggar persyaratan pembebasan bersyarat yang berasal dari hukuman sebelumnya pada 2014 yang katanya bermotif politik. Pengadilan mengatakan ia tidak memberi tahu pihak berwenang tentang keberadaannya ketika ia diterbangkan ke Jerman untuk perawatan medis. Ia berada di Jerman selama lima tahun untuk memulihkan diri dari keracunan yang hampir menyebabkan kematiannya.

Navalny ditangkap Januari lalu, ketika ia kembali ke Rusia . Pakar medis Eropa mengatakan ia diracun dengan Novichok, agen saraf era Soviet.

baca juga: Bertemu di Jenewa, Begini Pembicaraan Biden-Putin

Uni Eropa telah menjatuhkan sanksi pada para pemimpin Rusia terkait keracunan dan pemenjaraan Navalny. Kremlin terus menyangkal melakukan peran apa pun dalam peracunan itu dan mengecam UE, dengan mengatakan blok itu mencampuri urusan dalam negeri Rusia .

Hadiah Sakharov senilai $59.000 akan diberikan dalam sebuah upacara di Prancis pada bulan Desember. Pada masa lalu, Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, aktivis pendidikan Pakistan Malala Yousafzai dan oposisi demokratis Venezuela telah memenangkan penghargaan tersebut.

baca juga: Rusia Usir 10 Diplomat AS, Ini Penyebabnya

Tahun ini, para kandidat peraih penghargaan itu termasuk sekelompok perempuan Afghanistan dan politisi Bolivia yang dipenjarakan dan mantan Presiden sementara Jeanine Anez.

Editor: Eko Fajri