Afganistan Mulai Hadapi Kelangkaan Pangan

.
. (Net)

KLIKPOSITIF - Afghanistan kini menghadapi kelangkaan pangan yang akut seiring terjadinya musim kering, perebakan COVID-19 dan sanksi-sanksi ekonomi secara bersamaan. Berbagai faktor itu memaksa Afghanistan bergantung pada impor.

Meskipun merupakan negara agraris, Afghanistan tidak pernah mampu menghasilkan cukup makanan bagi rakyatnya. Kurangnya curah hujan tahun ini telah memperburuk ketahanan pangan di negara itu, memaksanya sangat bergantung pada impor. Selain itu kekeringan juga menimbulkan dampak terhadap negara-negara tetangganya, sehingga Afghanistan kini harus membayar lebih untuk mendapatkan kebutuhan pokok.

baca juga: WHO Resmikan Vaksin Malaria untuk Anak-Anak

"Gandum dan beras diimpor dari negara tetangga seperti Tajikistan, Uzbekistan, Kirgistan, Kazakhstan dan Pakistan. Kami membutuhkan komoditas itu karena Afghanistan belum swasembada," kata Penjabat Menteri Pertanian Afghanistan Abdul Rahman Rashed, dilansir dari VOAIndonesia.

Para petani mengatakan musim kering tahun ini lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya, dan sumur-sumur air yang biasa mereka gunakan untuk mengairi lahan pertanian kini semuanya mengering.

baca juga: Soal Presidensi G20, Kemenkeu Sebut Ini Manfaat Ekonominya

"Lima tahun lalu situasinya bagus karena air mengalir ke bawah gunung. Kini mata air dan sumur sudah mengering," ujar Qari Nasratullah, salah seorang petani.

Pandemi COVID-19 juga memperburuk keadaan, membuat orang tidak dapat mencari nafkah dan mengganggu arus barang ke negara itu.

baca juga: Mike Tyson Diminta Jadi Duta Ganja Oleh Malawi

"Produk dalam negeri tidak lagi mencukupi, dan karena komoditasnya merupakan hasil impor, harganya menjadi tinggi," ujar Abdul Maroof, seorang penjaga toko.

Seorang warga Kabul, Mohammad Masoor, mengatakan perbatasan telah ditutup sehingga tidak diperbolehkan ada impor dan ekspor.

baca juga: Seorang Remaja Lepaskan Tembakan di Sekolah, 3 Tewas dan 8 Terluka

"Sulit bagi orang untuk mengamankan kebutuhan dasar mereka karena kebanyakan orang yang bekerja di pemerintahan tidak menerima gaji. Mata uang Afghanistan juga sudah kehilangan nilainya," kata Masoor.

Taliban mengatakan pasukan asing juga berkontribusi terhadap krisis pangan saat ini.

"Alasan lain dari krisis pangan ini adalah terhambatnya bantuan internasional dan pembekuan aset Afghanistan oleh negara lain," tambah Abdul Rahman Rashed.

Hal-hal yang disebabkan oleh alam, seperti kekeringan, berada di luar kendali pemerintah mana pun. Tetapi akses untuk memperoleh bantuan dan dana dapat memungkinkan pemerintah untuk mengimpor lebih banyak makanan, menstabilkan harga komoditas dan menyediakan kebutuhan dasar masyarakat.

Editor: Eko Fajri