Diskusi Teater GKB: Teater Polifonik dan Cara Pandang Baru Membaca Naskah Wisran

Penampilan Teater Kuflet
Penampilan Teater Kuflet (ist)

PADANG PANJANG, KLIKPOSITIF - Kegiatan Gelar Karya Budaya kemarin (9/11) menghadirkan diskusi usai pertunjukan. Tema yang diusung adalah Teater Polifonik. Padangan ini melihat bagaimana naskah Wisran Hadi diterjemahkan hari ini.

Dalam pandangan Heru, naskah Kemerdekaan yang sudah berumur hampir 20 tahun diuji dalam konteks kekinian. Isunya masih penting karena ditulis pada masa orde baru. " Mengapa naskah itu masih dipentaskan? Bukan karena naskah itu tidak layak," tanya Heru memulai diskusi.

baca juga: Andre Rosiade Sampaikan Aspirasi Masyarakat Tanah Datar soal Sampah ke Direksi BNI

Polifonik yang dimaksud adalah bagaiamana sutradara-kritikus berperan dalam melihat naskah. Namun, ini harus dilandasi dengan pemikiran logis. "Karena kalau diacak-acak tidak sesuai nalar. Di sini intelektual harus bagian terdepan dalam melihat naskah," ujar Heru.

Diskusi menghangat. Bergantian penanya mangajukan argumen atau memperpanjang pikiran Heru. "Saya penasaran, seandainya memang naskah Pak Wis diacak, bagaimana tanggapan beliau?" tanta Abdul Hanif, alumni ISI Padangpanjang yang menyempatkan hadir dalam acara itu.

baca juga: Aktivitas Gunung Marapi Sumbar Terkini, Terjadi Dua Kali Hembusan

Khusus untuk pertunjukan, Heru berpendapat kedua pementasan belum menghasilkan teater polifonik yang dimaksud. Pertunjukan dari Pekanbaru

Hari terakhir (10/11) Gelar Karya Budaya (GKB) akan menampilkan Teater Batuang Sarumpun dari Padang dan Teater Selembayung dari Pekanbaru. Naskah Perempuan Salah langkah dan Penjual Bendera jadi alas. Kedua naskah ditulis Wisran Hadi, dramawan Indonesia.

baca juga: Hanya Satu Calon Perempuan yang Maju dalam Pilkades Pariaman

Fedli Azis dari Selembayung memilih Penjual Bendera karena rasa keindonesiaan yang kental dalam naskah tersebut."Saya kaget juga Pak Wis menulis naskah dengan tema seperti ini," ujar lulusan Universitas Lancang Kuning ini. "Ini menunjukkan, betapa luasnya jangkauan tema pada naskah Pak Wis. Tidak hanya Minang atau Melayu," tambahnya. Wisran Hadi juga menulis tentang Hikayat Hang Tuah menjadi naskah drama berjudul 'Senandung Semenanjung'.

Dari Yenny Ibrahim, Sutradara Batuang Sarumpun, keinginan untuk mementaskan naskah Wisran sudah cukup lama. Ia sempat berganti naskah. "Dua tahun lalu saya membaca Titian. Lalu, Roh. Namun, Perempuan (Salah Langkah) jadi pilihan. Ini saya sesuaikan dengan kondisi grup yang tidak mempunyai banyak opsi untuk aktor. Seaktu memilih Roh saya memiliki banyak pemain, tapi karena pandemi, satu persatu mundur," terang Yenny.

baca juga: Walikota Bukittinggi Gratiskan Iuran SMA, Andre Rosiade: Bukti Gerindra Hadir untuk Rakyat

Pemilihan kedua grup memang berlandaskan pada keinginan panitia untuk memberi tatapan baru pada naskah Wisran. Kemudian, wilayah juga masuk perhitungan sehingga Pekanbaru dipilih sebagai salah satu tempat.

"Ini juga disesuaikan dengan anggaran yang ada," ujar Trikora Irianto Direktur Produksi.

Usai pementasan hari ini, seluruh pementasan akan diunggah di youtube Lembaga Bumi Kebudayaan. Delapan pertunjukan akan menjadi bahan calon peserta untuk mengikuti Lomba Esai Nasional. Lomba ini jadi bagian program Festival Bumi kali ini.

Editor: Ramadhani